->Pendirian Bangunan Pasanggrahan
Pendirian Bangunan Pasanggrahan
Pemekaran Dusun Cinangsi seperti halnya kebanyakan wilayah pedusunan lainnya di wilayah Garut Selatan ini, sangatlah terhambat oleh tantangan medan topografi yang kompleks. Pasokan air dari mata air yang semakin terbatas, seiring dengan penggundulan hutan di recharge area Gunung Kamuning, dan berbagai gangguan yang mengusik rasa aman warga baik yang berasal dari mitos-mitos maupun satwa liar, menyebabkan kecenderungan warga untuk hidup berkelompok secara subsisten dengan halaman yang sangat sempit.
Model perkampungan yang demikian juga mewarnai pedesaan-pedesaan di Propinsi Jawa Barat sehingga pertumbuhan ekonomi desa menjadi sangat terhambat oleh faktor-faktor internalnya sendiri.
Didasarkan oleh pemikiran tersebut, maka direncanakanlah pendirian pasanggrahan di lokasi berjarak sekitar 1 km dari Dusun Cinangsi, masih berada di kawasan yang sama, sehingga dapat dibangun tata lansekap pemukiman yang baru secara utuh tetapi juga menjadi wahana transformasi warga setempat.
Dalam tahap berikutnya, dipertimbangkan bahwa konstruksi rumah pasanggrahan diusahakan sebanyak-banyaknya memanfaatkan bahan baku asli yang secara tradisional telah menjadi budaya warganya. Konstruksi rumah panggung dengan bahan baku utama kayu-kayu papan berkualitas, bilik bambu dan atap ijuk dipilih melalui proses survey dan seleksi yang matang. Konstruksi rumah panggung dikenal memiliki adaptabilitas tinggi terhadap variasi kontur dan elastisitas tanah lempung.
Kayu-kayu papan dan atap ijuk yang ringan mengurangi beban dan menyederhanakan fondasi rumah tersebut. Pemanfaatan kayu-kayu kelas asli dari daerah ini yang usianya relatif jauh lebih pendek, berkisar 5-10 tahun, dibandingkan kayu-kayu serupa dari Kalimantan memberikan keyakinan bahwa pengembangan hutan rakyat dengan siklus pendek sangat feasible untuk dikembangkan di daerah ini. Atap ijuk yang dilapis dengan anyaman daun jerami dari jenis pepohonan khusus dicatat oleh warga memiliki usia keawetan dua kali lebih tua dari genteng, yang cepat lapuk dan retak di daerah dengan curah hujan di atas 3000 mm ini.
Sungguh disayangkan bahwasanya khazanah rumah panggung dengan bahan baku asli daerah ini perlahan-lahan mulai ditinggalkan oleh warga dengan alasan tidak mengikuti trend modern yang mencirikan status kehidupan mereka. Rumah tembok beratap genteng dianggap dapat lebih mengangkat derajat kehidupan mereka. Akibatnya, pengadaan ijuk untuk keperluan atap menjadi langka sehingga warga setempat yang dahulu biasa membuat anyaman ijuk, telah lupa standar-standar ukuran dalam proses pembuatannya.
Pembangunan rumah pasanggrahan dengan bahan baku asli ini memiliki arti penting dalam usaha penyadaran kembali warga akan khazanah jati dirinya yang memiliki keunggulan terhadap iklim dan ekosistem setempat. Salah satu problem mendasar warga dalam membangun rumah tinggalnya adalah kualitas sarana MCK yang sangat rendah, berupa cubluk-cubluk di atas balong, dengan pasokan air yang tidak terjaga dan volume air balong sebagai pelarut kotoran manusia yang tidak tetap. Oleh karenanya, pembangunan sarana MCK pasanggrahan yang mengikuti standar sanitasi bersama-sama warga merupakan gerakan penyadaran tentang vitalnya fasilitas kesehatan.
Dalam proses pembuatan MCK tersebut, warga yang terlibat berkali-kali menampakkan keheranannya mengapa perlu dibuat sarana MCK sebaik dan semahal itu. Secara psikologis fenomena ini mencerminkan gaya hidup warga dimana ruang tamu rumah warga biasa dibangun semewah mungkin sedangkan sarana MCK dibuat seadanya, bahkan sistem penampungan air untuk kebutuhan sewaktu-waktu jarang sekali dibangun.
Bagian utama dari Pasanggrahan ini adalah ruang pendopo yang cukup luas dan didesain multi fungsi. Sebagai sarana berinteraksi dengan warga, pendopo ini sewaktu-waktu dapat difungsikan menjadi: (1) ruang kelas kecil sistem Jepang, (2) ruang ruang pertemuan, musyawarah, dan pengajian (3) ruang olahraga seperti senam, beladiri dan tenis meja, dan (4) ruang home theatre untuk menyaksikan film-film terpilih.
Dengan sistem sekat tidak permanen, pemfungsian pendopo untuk hal-hal di atas dapat mengintensifkan interaksi dan proses transformasi bersama warga. Tetapi segera saja disadari, bahwasanya untuk kebutuhan yang lebih khusus dan fokus, yaitu sarana belajar membaca dan menimba ilmu pengetahuan, apa yang dapat disediakan di Pasanggrahan ini sangat jauh dari mencukupi.






