->Profil Lembaga

Profil Lembaga


Sejarah

Sekelompok mahasiswa aktivis dan alumnus dari berbagai universitas yang mempunyai kesamaan idealisme dalam pengembangan wilayah bergabung dalam sebuah wadah yang diberi nama Swabhawa Development Research Center (SDRC), di bawah payung lembaga berbadan hukum yang berbasis di Bandung, Swadharma Consulting, pada tanggal 5 Nopember 2000. Wadah tersebut dibentuk di atas paradigma bahwa pembangunan suatu wilayah mesti didasarkan atas swabhawa-nya atau kejatidiriannya. Tanpa mengenali hal ini, apalagi mengabaikannya, maka perencanaan pembangunan akan senantiasa berujung pada kegagalan.

Dalam kurun waktu satu tahun masa penggodokan visi misinya, lembaga yang berbasis di Bandung ini memilih wilayah Garut sebagai modelnya pengembangan wilayah. Pilihan ini didasarkan atas sejumlah kriteria, yang didasarkan pada prinsip bahwa daerah tersebut merupakan representasi dari khazanah ke-Indonesia-an. Dari prinsip tersebut dirumuskan bahwa daerah tersebut harus memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut: (1) memiliki struktur iklim, geolologi, topografi dan ekosistem yang kompleks, (2) watak dasar masyarakatnya religius dan komunalistik, dan (3) sejumlah besar potensinya belum teraktualisasi, sehingga dikategorikan daerah tertinggal. Wilayah Garut selatan dipilih sebagai langkah awal –khususnya Kec. Peundeuy dan Cibalong—memenuhi semua kriteria tersebut, --disamping secara letak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal para anggota tim— dan oleh karenanya, cukup representatif bagi problem ke-Indonesia-an hari ini. Dengan latar belakang pendidikan akademis yang beragam, tim SDRC mulai mengidentifikasi seluruh masalah dalam proses pembangunan di daerah ini pada periode tahun 2000 M hingga 2002 M. Meskipun pada awalnya riset didesain untuk memetakan persoalan secara sektoral, tetapi akhirnya tim sampai pada kesimpulan bahwa persoalan di setiap sektor terkait dengan sektor lainnya dan tidak dapat ditangani secara terpisah. Problem kesehatan seperti berjangkitnya wabah typhus di lingkungan warga, misalnya, terkait dengan banyaknya institusi pendidikan informal seperti pesantren yang kurang mempedulikan sistem sanitasi lingkungan. Problem tingkat perceraian dan tingkat kenakalan remaja yang tinggi, misalnya, terkait dengan intensitas program TKW yang menyebabkan para ibu menitipkan anak-anaknya kepada keluarga besarnya. Dan hal ini juga terkait dengan sulitnya kaum pria di daerah ini menjadikan lahan pertanian sebagai mata pencaharian tetap yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Sedangkan pengelolaan lahan pertanian secara intensif juga dihadapkan pada sulitnya pengelolaan mata air secara permanen, sulitnya pembuatan terasering pada daerah-daerah dengan kemiringan tinggi dan jaringan transportasi yang sangat minim. Selama periode tersebut, program kerja SDRC telah membuahkan hasil berupa beberapa thesis dan skripsi, yang topik-topiknya terdiri dari: pemetaan komoditas pertanian yang didasarkan atas variabel ekologi, teknologi, ekonomi dan sosiologi; pemetaan karakter masyarakat yang didasarkan atas faktor bentukan alam; studi mineralisasi emas, perancangan model pendidikan dan pelatihan, dll. Dengan selesainya periode tersebut, SDRC sampai pada kesimpulan bahwa tidak mungkin mengangkat seluruh potensi wilayah dan martabat masyarakatnya, tanpa hidup, bekerja dan membangun bersama mereka. Oleh karenanya, diputuskan untuk memfokuskan riset, mengoptimalkan proses adaptasi dan interaksi serta mempersiapkan ruang tinggal bagi program live in. Melalui beberapa donasi, maka dapat dimiliki tanah seluas sekitar 7 ha di lokasi yang masih mengundang berbagai mitos yang berkembang ditengah masyarakat. Sebagai wahana implementasi skala mikro model-model pembangunan yang telah dan sedang diriset, lokasi tersebut dianggap cukup representatif.

Memasuki periode baru inilah, maka SDRC telah secara sepenuhnya berubah wajah, bukan lagi sebagai orang luar yang hendak memberikan stimulus kepada masyarakat setempat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri, menjalin ikatan persaudaraan dan membangun rasa senasib sepenanggungan. Sejak bulan Juni 2003, konsep SDRC telah sepenuhnya melebur ke dalam wadah Pasanggrahan Baranang Siang. Ditinjau dari etimologi, kata pasanggrahan yang berasal dari Sunda dan Jawa kuno memiliki arti sebuah tempat dimana ikatan persaudaraan yang kokoh terjalin, sedangkan Baranang Siang adalah istilah yang digunakan oleh KH Hasan Mustapa (alm.), seorang penghulu Bandung pada masa penjajahan Belanda yang menghidupkan khazanah ke-Sunda-an, yang berarti sebuah fase pencerahan dan telah mencapai keterbimbingan dalam perjalanan menuju Tuhan-nya. Dengan pendirian Pasanggrahan Baranang Siang maka seluruh problem masyarakat yang semula hanyalah catatan riset, terinternalisasi, dan menjadi bagian dari problem kehidupan para perisetnya sendiri. Keluarga Pasanggrahan Baranang Siang secara bertahap mencoba melakukan proses transformasi bersama melalui program-program pendidikan dan pengajaean, pertanian, peternakan, pengelolaan hutan, dan beberapa pengelolaan unit-unit usaha yang berkembang dimasyarakat. Setelah mengalami kebersamaan dengan masyarakat selama lebih kurang 3 (tiga) tahun dan riset yang telah dilakukan selama 6 (enam) tahun, kami menemukan sebuah keyakinan bahwa model yang telah kami godok dan uji coba ini sudah layak untuk diperkenalkan kepada masyara-kat luas dan para pengambil kebijakan terkait untuk secara bersama-sama mematangkannya, dan diharapkan dapat di uji di beberapa tempat. Sebagai sebuah penjelasan, bahwa apa yang kami lakukan sejauh ini belum menyentuh aspek pembangunan fisik bagi masyarakat tetapi lebih ditekankan pada mengumpulkan semua fakta-fakta di lapangan, mengolahnya, serta merumuskannya agar menjadi sebuah kesimpulan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan baik untuk pemerintahan setempat maupun untuk pemerintah pusat.

Visi dan Misi

Visi :

Menjadi Pemakmur Bumi

Misi :

  • Menggali khazanah nusantara
  • Merajut sejarah bangsa
  • Bersatu membangun negeri

Tujuan :

  • Membangun tata lansekap pemukiman yang baru secara utuh sebagai wahana transformasi warga setempat
  • Mengangkat teknologi kearifan tradisional, meliputi : sains, teknologi, dan budaya
  • Sebagai laboratorium pengembangan wilayah berbasis jati diri.

Logo dan Makna

Logo :

 

 

 

 Makna :

  • Garis merah dan biru melambangkan pertemuan dua lautan (majma al-bahraini), penyatuan jiwa-raga, garis warna biru samudera yang menuju ke arah luar (barat) sebagai sebuah lambang bahwa baktinya kepada sesama dilakukan dengan perasaan mendalam, tajam, serta bijak; kemudian garis warna merah menyala yang menuju kedalam (timur) menandakan bahwa dalam melakukan pengembangan diri disertai dengan rasa jujur dan tulus, hanya membela keutamaan, tidak ada rasa takut meskipun harus mempertaruhkan jiwa.
  • Kata Pasanggrahan Baranang Siang dituliskan mulai dari area pertemuan dua garis, daerah pertemuan dua lautan, melambangkan bahwa Pasanggrahan Baranang Siang didirikan atas sebuah petunjuk yang keluar dari khasanah jiwa yang telah mengalami proses penempaan dalam perjalanan, dimana dalam pertemuan dua lautan terdapat kekuatan menghidupkan ikan yang telah mati sebagai sebuah simbol dari rejeki yang diberkahi dan pengetahuan yang memberikan arah bagi penemuan kebaktian sejati;
  • Bulatan warna kuning, menandakan keluhuran budi akal, hormat dan sayang setulus hati, hidup sabar taqwa, senantiasa mengikuti perintah Allah SWT Yang Memberi Hidup dalam melakukan karyanya. Bentuk matahari, melambangkan sifat yang mencahayai dan memberi kehidupan, juga sebagai simbol menjadi wakil Allah yang haq –insan kamil.

 

Tags
Serambi | Tentang Kami | Kontak Kami | Webmaster