->Profil Desa Binaan
Profil Desa Binaan
Pengantar
Ada dua kecamatan yang menjadi target pembinaan kami, yakni kecamatan Peundeuy dan Kecamatan Cibalong. Pada tahap awal ini, kami mencoba folus pada stu dusun, yakni dusun Cinangsi yang terletak perisis di perbatasan dua kecamatan ini. Adapun profil Kecamatan Peundeuy adalah sbb:
Profil Kecamatan Peundeuy
A. KONDISI SOSIAL KEMASYARAKATAN
A. 1. Kondisi Umum
Hampir mencapai 70% wanita angkatan kerja di Kecamatan Peundeuy meninggalkan daerahnya untuk pergi ke kota ataupun menjadi TKW/TKI. Dengan banyaknya TKW dan meninggalkan daerah asalnya, meninggalkan suami, telah meninggalkan berbagai permasalahan keluarga. Para suami yang ditinggal telah menikah lagi, meningkatnya tingkat perceraian dan terbengkalainya pengurusan anak, serta kasus-kasus rumah tangga yang lain. Sampai-sampai para mantan TKW ini mengeluarkan sejumlah uang, bahkan semua kekayaannya untuk membeli talak dari suami. Telah banyak larangan dari para ajengan untuk tidak ikut menjadi TKW, namun para ibu-ibu muda ini masih ngotoot ingin menjadi TKW. Jika alasannya hanya sekedar ekonomi belaka, namun banyak yang sampai beberapa kali menjadi TKW.
Para pemuda yang pergi ke kota menyisakan wanita-wanita, ibu dan anak-anak. Bahkan satu kampung yang dijumpai kebanyakan adalah para wanita dan anak-anak. Kondisi yang kontras di tempat lain yang dijumpai adalah para lelaki, bapak-bapak, ditinggal istri menjadi TKW.
A.1.1. Kehidupan Keagamaan
Di Kecamatan Peundeuy tersebar beberapa pondok pesantren hampir merata di semua desa, kecuali Desa Sukanagara. Pesantren-pesantren dengan santri yang banyak diantaranya adalah dua pesantren di Saribakti, dua di Peundeuy, dan satu di Pangrumasan. Santri-santrinya tidak hanya berasal dari lokal kecamatan, namun tersebar dari beberapa kecamatan di Kabupaten Garut.
Hampir setiap hari ada pengajian yang bergilir tempatnya, dan sudah tetap jadwal per minggunya. Antusiasme masyarakat terhadap pengajian sangat besar, terutama pada kalangan sepuh-sepuh, namun jarang terlihat adanya pemuda yang tergabung dalam pengajian.
Ada pengajian khusus yang diadakan di Desa Saribakti khusus bagi para pemuda sebagai pembinaan terhadap pemuda-pemudi. Pngajian ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya perbaikan budi pekerti anak muda-mudi, khususnya pergaulan di kalangan mereka. Kenakalan pemuda di Kecamatan Peundeuy memang sudang memprihatinkan bagi para orang tua, ajengan dan pemuka masyarakat.
A.1.2. Kenakalan Pemuda
Daerah yang paling terkenal paling tinggi tingkat kenakalannya adalah daerah Pacing, Desa Peundeuy. Bahkan di tempat lain pergaulan muda-mudi sudah cukup bebas dan meresahkan masyarakat.
A.2. ISU UTAMA
A.2.1 Kecamatan Termiskin di Kab. Garut
Kecamatan Peundeuy jika dilihat dari PDRB perkapita, merupakan kecamatan dengan PDRB perkapita yang paling rendah dibandingkan dengan kecamata-kecamatan lain di Kab. Garut.
A.2.2 Mobilitas Tenaga Kerja
Di Kec. Peundeuy banyak yang menjadi TKW ke Arab Saudi. Ada sebagian anggapan bahwa pergi ke tanah suci bekerja menjadi TKW adalah suatu pekerjaan mulia dan suci. Sebagian wanita yang bekerja menjadi TKW malah menjadi kebanggaan kecamatan Peundeuy karena dari bidang ini banyak menghasilkan perbaikan ekonomi, salah satunya ditandai oleh kualitas rumah yang lebih baik daripada rumah penduduk pada umumnya. Yang menjadi TKW sebagian besar adalah dari desa Peundeuy, Sukanegara, dan Saribakti.
Sebagian besar pemuda di Kec. Peundeuy, bahkan ada yang mencapai 75% dari pemuda, pergi ke kota, lebih memilih untuk berdagang di kota, bekerja pada sektor informal. Ada pertimbangan bahwa kepergian ke kota ini adalah untuk mengisi waktu luang di sela-sela jadwal bertani di kampung untuk menambah penghasilan dan untuk mengurangi tingkat kenakalan pemuda karena menganggur. Sekitar 10-an hari di kota dan 10-an hari di kampung membawa uang dan merawat usaha pertaniannya.
Perpindahan sebagian besar pemuda mengakibatkan terbawanya potensi tenaga kerja keluar dari kecamatan Peundeuy. Apabila kondisi ini terus berlangsung maka dapat terjadi kehilangan potensi tenaga kerja.
A.2.3 Ketahanan Pangan
Secara umum, tanaman pangan yang dibudidayakan di Peundeuy adalah padi. Padi di sini ditanam oleh petani dengan tidak mengenal musim dan pergantian dan perputaran jenis tanaman budidaya. Sehabis padi, padi lagi. Begitu terus selama bertahun-tahun. Petani telah kehilangan sensitivitas dan pengkhidmatan terhadap musim dan perubahannya. Padahal sensitivitas dalam membaca kepada musim dan perubahannya serta berkhidmat kepadanya merupakan kunci utama keberhasilan bertani. Kegagalan pembacaan ini ditunjukkan dengan pola tanam yang monoton dan tidak mengikuti kaidah-kaidah penentuan waktu tanam dan waktu panen. Kesalahan ini berdampak luar biasa pada munculnya hama dan penyakit tanaman budidaya yang tidak dijumpai sebelumnya dalam kualitas dan kuantitasnya. Petani telah tercerabut dari dunia pertaniannya.
Hingga Agustus 2001, selama kurang lebih tujuh musim tanam, mengalami kegagalan panen padi. Menurut penduduk, kegagalan ini dikarenakan kekeringan yang panjang hingga tahun tersebut dan serangan hama tikus. Kekeringan kali ini berbeda dengan musim kering tahun-tahun sebelumnya. Serangan tikus dirasakan semakin ganas, dan tidak menyisakan bagian bagi petani. Penanaman serentak yang diorganisir melalui kelompok tani, dan berbagai macam upaya penanggulangan hama tikus tetap tidak membuahkan hasil. Bahkan ketika di cek di lapangan untuk beberapa petak sawah yang diusahakan ternyata tidak mengikuti pola tanam serentak. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi serangan tikus, namun tidak ada keberhasila sama sekali.
Petani di Kec. Peundeuy kebanyakan menggunakan benih padi bukan varietas lokal, seperti IR 64, karena pertimbangan lamanya masa panen menggunakan benih varietas lokal. Walaupun dari segi ketahanan terhadap serangan hama tikus varietas lokal lebih baik dari varietas IR 64. Di Peundeuy tidak ada lumbung desa, sehingga kegagalan panen ini telah menguras semua padi mereka. Dulu setiap tahun, selalu ada surplus padi yang dibawa keluar dari Peundeuy, sekarang mendatangkan beras dari daerah luar dan mendapatkan beras subsidi pemerintah, beras OPK. Beras OPK yang jatuh ke tangan penduduk bervariasi harganya, ada yang mencapai Rp 1700,00 per kg.
A.2.4 Terganggunya Siklus Hidrologi dan Kerusakan Hutan
Selama masa-masa kering 1997 hingga Agustus 2001 ini, debit air permukaan tanah berkurang drastis. Level permukaan air sungai menurun tajam dari kondisi normalnya. Ketinggian permukaan air di parit-parit hanya sampai sebatas mata kaki, bahkan ada yang kering sama sekali, padahal sebelumnya, secara normal, ketinggiannya hampir mencapai lutut.
Di Kapunduhan Parabon, Desa Peundeuy, waktu kemarau panjang, tahun 1997, terjadi kekeringan hingga 7 bulan. Sumur sedalam 12 m kering. Kulaitas air sumur dari segi warnanya agak kekuningan dan keruh lumpur. Akibatnya banyak orang-orang yang mengambil dari sungai untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Debit air yang sedemikian menurun ini, tidak membuat petani untuk beralih menanam komoditas pertanian lain. Tetap menanam padi. Kekurangan air ini terkadang menimbulkan konflik di tingkat petani itu sendiri, walaupun telah ada kelompok tani yang cukup terorganisir dengan melakukan penanaman secara serentak, yang diharapkan pembagian air dapat berlangsung baik, tetap tidak membuahkan hasil padi yang lebih baik.
Di daerah pemukiman penduduk, ketika musim kering mengalami penurunan permukaan air bahkan sampai mengakibatkan keringnya dasar sumur, yang dalamnya mencapai sekitar 15 meter. Bahkan di beberapa tempat para penduduk membawa wadah untuk air, mencari air ke kampung lain atau mencari ke sumber mata air yang masih menyisakan sedikit airnya.
Di desa Peundeuy, ketika musim kering, ketinggian permukaan air yang terdapat pada sumur-sumur penduduk mencapai kedalaman 12 m dari permukaan, dan kondisi ini pun hampir mencapai dasar sumur. Bahkan di kapunduhan Sukawening, para penduduk yang sumurnya telah kering mencari air hingga perkampungan lain yang lebih dekat.
Di kapunduhan Sukawening, Desa Peundeuy, beberapa kali terjadi peristiwa singkapan geologis yang semakin lama semakin bergeser ke arah wilayah utara. Dari peristiwa geologis ini terbentuk sumber air yang pada musim kering menjadi kering juga.
Desa Toblong yang sebagian besar daerahnya merupakan daerah datar dan berada pada ketinggian yang paling rendah diantara desa-desa lainnaya, ketika terjadi penaikan level ketinggian permukaan air sungai Cikaengan hingga melewati ambang batas toleransi kebanjiran, akan mudah sekali terendam air sungai. Boleh dikatakan desa Toblong menerima semua akumulasi permasalahan hidrologi akibat terganggunya kesetimbangan ekologis yang mengakibatkan terganggunya siklus hidrologi.
Di desa Sukanegara, yang bagian timurnya berbatasan langsung dengan Kab. Tasikmalaya, dan berupa tanah bukit berhutan, sejak tahun 1998 mengalami penebangan secara membabi buta di bukit tersebut. Warga turut menebangi hutan karena merasa sudah tidak dapat bagian karena pejabat desa sebelumnya turut andil dalam penebangan hutan, dan sisanya sudah tidak dapat diapa-apakan lagi. Sawah yang ada mengandalkan hujan, kering. Waduk tradisional yang ada pun mengalami penyusutan yang sangat dan hanyaa tinggal sedikit airnya, bahkan ditanami padi juga.
Desa Sukanegara sumber mata airnya ada di Kab. Tasikmalaya. Karena kekeringan, pernah ada usaha negosiasi dengan warga di Kab. Tasikmalaya untuk membagi air untuk dialirkan melalui punggung-punggung bukit. Namun warga di Kab. Tasik tidak memperkenankan upaya ini. Diantara penyebabnya adalah bahwa nanti akan kekurangan air, sebab, saat itupun lagi musim kering juga.
Desa Pangrumasan yang memiliki tanah hutan paling banyak, memiliki sungai utama sungai Cibaluk, bermata air di beberapa tempat di hutan tersebut. Penduduk memanfaatkan air dari hutan ini untuk berbagai kebutuhan hidup. Di hutan itu, sering terjadi pencurian kayu, baik oleh warga Peundeuy sendiri maupun oleh warga dari kecamatan sekitar hutan yang lain. Bahkan ada bukit yang telah gundul ditebang hanya oleh satu dua orang saja. Ada laporan miring tentang aparat desa sebelumnya berkenaan dengan masalah penebangan kayu hutan. Ada upaya pemuda desa setempat untuk mengamankan daerah hutan desa mereka dari penjarah, namun kurang mendapat respon positif dari aparat desa. Disamping itu anggota KPJB sering mendapat ancaman dari para penebang hutan perihal penebangan pohon-pohon hutan.
Sekitar November 2001, saat musim penghujan mulai, terjadi lonjakan debit air sungai Cikaingan. Ketinggian permukaan air sungai ini meningkat. Arusnya deras, warnanya keruh, kuning kecoklatan. Kondisi membaiknya persediaan air ini berdampak pada membaiknya kondisi pertanian, pada tanaman padi. Dan tanaman padi sudah mulai sedikit dapat dilihat hasilnya walaupun belum mulai musim panen.
Fluktuasi ketinggian permukaan air tanah diduga terkait erat dengan adanya gangguan kesetimbangan hidrologis dan ekologis pada daerah resapan air. Penebangan hutan berlangsung di beberapa desa. Di siang hari terkadang terdengar deru mesin gergaji mesin di tengah hutan, terjadi penebangan pohon.
A.2.5. Hidrologi dan Pertanahan: Pengelolaan Bersama Atas Potensi Ekologis, Hidrologis dan Ekonomi
Pada daerah di sekitar arus sungai Cikaengan, tanahnya datar dan subur. Daerah ini bagus untuk ditanami padi. Air sungai ini berkelok-kelok, dan pada tempat-tempat kelokan akan menimbulkan abrasi sisi sungai dan mengendap di dasar sungai membentuk dataran landai. Daerah yang mengalami abrasi akan “kehilangan” sebagian daerahnya, sebaliknya daerah yang ada di seberang akan mengalami “penambahan” sebagian daerah. Untuk jangka waktu yang lama akan semakin banyak bagian daerah yang ”hilang” dan yang ber”tambah”. Hingga saat ini belum ada ketentuan yang mengatur masalah ini. Dan ini mungkin akan menjadi konflik karena terkait dengan masalah ketahanan pangan suatu daerah.
Desa Toblong yang menerima akumulasi permasalahan hidrologi ketika ada luapan sungai Cikaengan, akan menderita kerugian yang besar karena tempatnya yang kurang “menguntungkan” terhadap desa lain yang relatif lebih tinggi. Jika terus menerus terjadi gangguan kesetimbangan ekologis dan terganggunya siklus hidrologi maka kemungkinan akan adanya desa lain yang berperan menjadi daerah penyangga resapan air akan digugat walaupun boleh jadi penduduknya tidak terkait langsung dalam penggangguan kesetimbangan ekologis tersebut.
Demikian halnya dengan desa Sukanegara. Di sini pun menyimpan konflik antar daerah, antar kabupaten, jika permasalahan hidrologi tidak tertangani dengan baik.
Permasalahan pertanahan yang potensi muncul terkait dengan abrasi sungai Cikaengan adalah masalah kepemilikan dan pengelolaan daerah “tambahan” dan daerah yang “hilang” akibat abrasi tersebut. Selama ini belum pernah tercatat muncul sengketa atas “tanah tiban” tersebut.
Di daerah kapunduhan Sukawening, Desa Peundeuy, terdapat peristiwa singkapan geologis yang mengakibatkan sebagian tanah tertimbun dan tertutup serta “hilang” dari permukaan. Lokasi ini digunakan untuk lahan pertanian. Selama ini yang menjadi bukti kepemilikan bahwa tanahnya masih ada adalah manakala ada tanaman keras yang masih utuh berdiri. Ketika tidak ada bukti berarti tanahnya hilang.
Sikap aparat pemerintahan dalam menyikapi kasus-kasus ini adalah menunggu adanya laporan atas sengketa tanah dari pihak-pihak yang bersengketa. Selama ini belum pernah tercatat ada laporan sengketa tanah berkaitan dengan tanah-tanah tersebut.
A.2.6. Tata Guna Lahan
Di Kec. Peundeuy banyak daerah yang berbukit-bukit dengan tingkat kemiringan lereng yang tinggi. Pertanian yang dilakukan di lapangan adalah penanaman padi yang dilakukan pada lahan berlereng curam, tanpa ada tanaman keras berkayu yang menjadi pengikat tanah, dengan lebar petak sawah sekitar dua-tiga-empat langkah, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya longsor, manakala terlampaui tingkat kejenuhan air yang terikat oleh butiran-butiran tanah. Tingkat kejenuhan kandungan air ini puncaknya tercapai manakala terjadi hujan.
Lahan yang banyak beralih fungsi adalah dari lahan hutan yang dialihfungsikan sebagai lahan untuk bertanam padi huma. Kondisi yang paling parah adalah pembabatan hutan lindung di Cibaluk untuk dijadikan lahan pertanian.
A.2.7. Pendidikan
Menurunnya semangat mengajar para guru, karena kehilangan visi pengembangan pendidikan dan pengembangan daerah setempat. Keterputusan pendidikan dengan pengembangan pertanian di kec. Peundeuy.
Di Kec. Peundeuy masih tinggi tingkat drop outnya. Tingkat drop out siswa yang tinggi disebabkan oleh ajakan keluarga untuk ke kota membantu usaha berdagang.
Beberapa pesantren di kec. Peundeuy menunjukkan minat yang sangat besar berkaitan dengan pengembangan pertanian yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di pesantren dan memanfaatkan lahan yang dimiliki pesantren. Namun tidak semua pesantren memiliki lahan yang dengan lahan itu bisa membudidayakan komoditas pertanian. Terdapat penerimaan yang besar dari kalangan pesantren untuk mengintegrasikan pendidikan di pesantren dengan pertanian dan pengembangan potensi daerah.
A.2.7. Kesehatan
Dari perumahan penduduk yang disurvei terlihat bahwa sebagian besar penduduk mengalami rawan gizi dan keseimbangan pola makan yang buruk. Asupan dan keseimbangan gizi makanan kurang memenuhi sarat standar kesehatan.
Sebagian besar bangunan rumah berbahan baku kayu. Sebagian besar rumah tidak memiliki sirkulasi udara dan sanitasi yang bruruk. Tingkat sanitasi rumah yang rendah dan kesadaran tentang kesehatan yang rendah, membuat tubuh, rumah dan lingkungan sekitar kurang memenuhi standar kesehatan.
Tenaga kesehatan di kec. Peundeuy masih sangat kurang. Untuk penduduk yang jauh letaknya dari puskesmas lebih senang menggunakan obat-obatan yang dijual di warung-warung atau obat tradisional untuk mengobati penyakitnya Untuk berobat ke puskesmas, terkadang datang dari Pangrumasan ke Peundeuy, jalan kaki naik turun bukit. Itupun kalau dirasa penyakitnya tidak sembuh-sembuh.. Dan pilihan ke puskesmas adalah pilihan terakhir.
Untuk air bersih yang digunakan, ada masyarakat yang menggunakan balong dan cubluk umum sebagai tempat MCK. Kalaupun ada penduduk yang memiliki sumur itupun jaraknya dengan balong tidak cukup jauh, sehingga memungkinkan rembesan air balong dapat masuk ke sumur.
Permasalahan persalinan, biasanya yang diminati pertolongan pertama adalah para paraji. Obat-obatan yang digunakan oleh para paraji sebagian besar adalah menggunakan ramuan tradisional, karena terbukti manjur. Jika paraji ini telah mentok dan tidak sanggup untuk melakukan penanganan lanjutan maka diserahkan kepada bidan (tenaga medis).
Kebiasaan tata cara kerja yang dilakukan masyarakat dalam mengelola lahan dan balongnya menyebabkan kontak langsung dengan air yang dingin selama berjam-jam. Kebiasaan ini diduga menjadi penyebab munculnya berbagai penyakit yang terkait dengan tulang, terutama di anggota tubuh.
Transportasi
Sarana transportasi penumpang yang umum di Kec. Peundeuy adalah elp dan minibus. Karena sedikitnya jumlah angkutan penumpang umumnya, maka satu elp bahkan dimuati sampai 40-an orang. Duduk di atas kap dan menggantung di samping iri dan bagian belakang elp. Kondisi yang penuh sesak melebihi kapasitas tempat duduknya akan membahayakan keselamatan penumpang. Bahkan pernah ada korban meninggal akibat buruknya sarana transportasi ini.
Kondisi prasarana jalan utama kecamatan yang menghubungkan kec. Peundeuy dengan kecamatan lain kondisinya buruk. Banyak lobang dan tanjakan sekaligus tikungan tajam. Jalan yang menghubungkan desa Sukanagara dan Pangrumasan dengan kota kecamatan tidak memadai. Kondisi yang paling parah adalah jalan yang menghubungkan ke Desa Pangrumasan. Ada tiga jalur untuk ke Desa Pangrumasan, jalan kaki pada jalan setapak lewat Peundeuy, naik turun bukit-bukit. Jalan setengah aspal sempit yang dilalui ojek, namun hanya setengah jalan, selanjutnya ditempuh dengan jalan kaki naik turun celah perbukitan. Jalan yang dapat dilalui mobil, kondisinya paling parah, belum beraspal, berbatu-batu besar dan tajam, berlobang-lobang besar, licin, belokan tajam dan turunan/tanjakan curam.
A.2.8. Permukiman
Di desa Peundeuy bagian barat daya – barat beberapa kali terjadi singkapan geologis yang mengakibatkan satu bagian menimpa dan menumpuk bagian permukaan tanah yang lain. Akibat peristiwa semacam ini yang berlangsung beberapa kali dan memiliki pola yang jelas pergerakannya mimiliki potensi sebagai tempat yang kurang aman untuk dijadikan pemukiman. Sebagian warga daerah yang terkena bencana ini pindah ke daerah lain di Kec. Peundeuy.
PROFIL DUSUN CINANGSI
Dusun Cinangsi yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Peundeuy dan Kecamatan Cibalong, merupakan sebuah perkampungan yang dihuni oleh 90 kepala keluarga dan berada sekitar lembah/kaki Gunung Kamuning dan Pasir Bedil. Di kawasan yang masih didominasi oleh hutan rakyat dan ekosistem yang kompleks tersebut, masyarakat harus bergulat dari hari ke hari untuk membangun kehidupannya di atas sumber daya primer yang ketersediaannya semakin menipis tetapi juga harus dapat bersaing dengan komoditas daerah lain yang telah mempunyai akses transportasi, komunikasi dan informasi lebih baik dari daerah ini.
Ditinjau dari sudut topografi, kawasan ini ideal karena terletak tepat di antara dua sungai penting di Garut selatan yaitu Sungai Cikahyangan dan Sungai Cibaluk. Kedua sungai ini bukan hanya memasok kebutuhan air bagi sebagian besar warga tetapi juga membentuk karakter warganya. Di samping itu, kawasan ini juga dinaungi oleh Gunung Kamuning, sebuah gunung tua yang tidak aktif tetapi merupakan salah satu recharge area dan sumber plasma nutfah bagi warga setempat. Sejumlah satwa langka seperti burung elang, burung merak, burung cawakwak, kucing hutan, lutung, surili, beragam komoditas kayu kelas, beragam jenis jamur obat bernilai tinggi, beragam jenis serangga pakan yang berkembang biak secara alami hingga potensi mineral logamnya merupakan medan tantangan yang berat untuk dikelola.
Dengan ekosistem yang demikian, maka setiap petak lahan yang tersedia mesti dikembangkan di atas konsep penataan wilayah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Setiap lembah, cekungan, punggungan dan dataran membutuhkan perenungan dan pemikiran yang matang untuk mengangkat potensi-potensinya.
Warga Dusun Cinangsi tergolong masyarakat yang berkarakter lugu dengan tingkat pendidikan rata-rata tidak tamat sekolah dasar. Sebagian besar warga mempunyai mata pencaharian tidak tetap dengan mengandalkan hasil bumi setempat yang sangat beragam. Bagian yang terbesar dihidupi oleh komoditas kayu yang persediaannya di hutan-hutan rakyat semakin menipis. Pada sektor ini terdapat beberapa spesialisasi okupasi yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh keterbatasan investasi modal, peralatan dan manajerial seperti buruh penebangan kayu, buruh pengangkutan kayu dan buruh pemotongan kayu. Sebagian yang lain menekuni areal persawahan yang mendapatkan pengairannya dari mata air-mata air Gunung Kamuning dan Pasir Bedil. Sebagian lainnya menggembalakan kerbau dan kambing di lahan-lahan kritis yang tidak digarap secara intensif, yang masih cukup luas di daerah ini. Atau juga untuk disewakan kepada para pemilik sawah yang hendak membajak sawahnya dengan upah rendah. Sedangkan sisanya bekerja secara sporadis pada beragam okupasi: buruh penggarap tanah, pengumpul kroto, penanam palawija, penganyam bambu, hingga tukang ojek. Dalam kelompok okupasi yang terakhir inilah warga bekerja secara spontan dan tidak memiliki kebiasaan yang teratur.






