->Profil Desa Binaan

Profil Desa Binaan


Table of Contents:

PROFIL DUSUN CINANGSI

Dusun Cinangsi yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Peundeuy dan Kecamatan Cibalong, merupakan sebuah perkampungan yang dihuni oleh 90 kepala keluarga dan berada sekitar lembah/kaki Gunung Kamuning dan Pasir Bedil. Di kawasan yang masih didominasi oleh hutan rakyat dan ekosistem yang kompleks tersebut, masyarakat harus bergulat dari hari ke hari untuk membangun kehidupannya di atas sumber daya primer yang ketersediaannya semakin menipis tetapi juga harus dapat bersaing dengan komoditas daerah lain yang telah mempunyai akses transportasi, komunikasi dan informasi lebih baik dari daerah ini.

Ditinjau dari sudut topografi, kawasan ini ideal karena terletak tepat di antara dua sungai penting di Garut selatan yaitu Sungai Cikahyangan dan Sungai Cibaluk. Kedua sungai ini bukan hanya memasok kebutuhan air bagi sebagian besar warga tetapi juga membentuk karakter warganya. Di samping itu, kawasan ini juga dinaungi oleh Gunung Kamuning, sebuah gunung tua yang tidak aktif tetapi merupakan salah satu recharge area dan sumber plasma nutfah bagi warga setempat. Sejumlah satwa langka seperti burung elang, burung merak, burung cawakwak, kucing hutan, lutung, surili, beragam komoditas kayu kelas, beragam jenis jamur obat bernilai tinggi, beragam jenis serangga pakan yang berkembang biak secara alami hingga potensi mineral logamnya merupakan medan tantangan yang berat untuk dikelola.

Dengan ekosistem yang demikian, maka setiap petak lahan yang tersedia mesti dikembangkan di atas konsep penataan wilayah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Setiap lembah, cekungan, punggungan dan dataran membutuhkan perenungan dan pemikiran yang matang untuk mengangkat potensi-potensinya.

Warga Dusun Cinangsi tergolong masyarakat yang berkarakter lugu dengan tingkat pendidikan rata-rata tidak tamat sekolah dasar. Sebagian besar warga mempunyai mata pencaharian tidak tetap dengan mengandalkan hasil bumi setempat yang sangat beragam. Bagian yang terbesar dihidupi oleh komoditas kayu yang persediaannya di hutan-hutan rakyat semakin menipis. Pada sektor ini terdapat beberapa spesialisasi okupasi yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh keterbatasan investasi modal, peralatan dan manajerial seperti buruh penebangan kayu, buruh pengangkutan kayu dan buruh pemotongan kayu. Sebagian yang lain menekuni areal persawahan yang mendapatkan pengairannya dari mata air-mata air Gunung Kamuning dan Pasir Bedil. Sebagian lainnya menggembalakan kerbau dan kambing di lahan-lahan kritis yang tidak digarap secara intensif, yang masih cukup luas di daerah ini. Atau juga untuk disewakan kepada para pemilik sawah yang hendak membajak sawahnya dengan upah rendah. Sedangkan sisanya bekerja secara sporadis pada beragam okupasi: buruh penggarap tanah, pengumpul kroto, penanam palawija, penganyam bambu, hingga tukang ojek. Dalam kelompok okupasi yang terakhir inilah warga bekerja secara spontan dan tidak memiliki kebiasaan yang teratur.

 

 

Tags
Serambi | Tentang Kami | Kontak Kami | Webmaster