->Profil Desa Binaan
Profil Desa Binaan
Table of Contents:
- Profil Desa Binaan
- Page 2
- Page 3
- Page 4
- Page 5
Desa Sukanegara sumber mata airnya ada di Kab. Tasikmalaya. Karena kekeringan, pernah ada usaha negosiasi dengan warga di Kab. Tasikmalaya untuk membagi air untuk dialirkan melalui punggung-punggung bukit. Namun warga di Kab. Tasik tidak memperkenankan upaya ini. Diantara penyebabnya adalah bahwa nanti akan kekurangan air, sebab, saat itupun lagi musim kering juga.
Desa Pangrumasan yang memiliki tanah hutan paling banyak, memiliki sungai utama sungai Cibaluk, bermata air di beberapa tempat di hutan tersebut. Penduduk memanfaatkan air dari hutan ini untuk berbagai kebutuhan hidup. Di hutan itu, sering terjadi pencurian kayu, baik oleh warga Peundeuy sendiri maupun oleh warga dari kecamatan sekitar hutan yang lain. Bahkan ada bukit yang telah gundul ditebang hanya oleh satu dua orang saja. Ada laporan miring tentang aparat desa sebelumnya berkenaan dengan masalah penebangan kayu hutan. Ada upaya pemuda desa setempat untuk mengamankan daerah hutan desa mereka dari penjarah, namun kurang mendapat respon positif dari aparat desa. Disamping itu anggota KPJB sering mendapat ancaman dari para penebang hutan perihal penebangan pohon-pohon hutan.
Sekitar November 2001, saat musim penghujan mulai, terjadi lonjakan debit air sungai Cikaingan. Ketinggian permukaan air sungai ini meningkat. Arusnya deras, warnanya keruh, kuning kecoklatan. Kondisi membaiknya persediaan air ini berdampak pada membaiknya kondisi pertanian, pada tanaman padi. Dan tanaman padi sudah mulai sedikit dapat dilihat hasilnya walaupun belum mulai musim panen.
Fluktuasi ketinggian permukaan air tanah diduga terkait erat dengan adanya gangguan kesetimbangan hidrologis dan ekologis pada daerah resapan air. Penebangan hutan berlangsung di beberapa desa. Di siang hari terkadang terdengar deru mesin gergaji mesin di tengah hutan, terjadi penebangan pohon.
A.2.5. Hidrologi dan Pertanahan: Pengelolaan Bersama Atas Potensi Ekologis, Hidrologis dan Ekonomi
Pada daerah di sekitar arus sungai Cikaengan, tanahnya datar dan subur. Daerah ini bagus untuk ditanami padi. Air sungai ini berkelok-kelok, dan pada tempat-tempat kelokan akan menimbulkan abrasi sisi sungai dan mengendap di dasar sungai membentuk dataran landai. Daerah yang mengalami abrasi akan “kehilangan” sebagian daerahnya, sebaliknya daerah yang ada di seberang akan mengalami “penambahan” sebagian daerah. Untuk jangka waktu yang lama akan semakin banyak bagian daerah yang ”hilang” dan yang ber”tambah”. Hingga saat ini belum ada ketentuan yang mengatur masalah ini. Dan ini mungkin akan menjadi konflik karena terkait dengan masalah ketahanan pangan suatu daerah.
Desa Toblong yang menerima akumulasi permasalahan hidrologi ketika ada luapan sungai Cikaengan, akan menderita kerugian yang besar karena tempatnya yang kurang “menguntungkan” terhadap desa lain yang relatif lebih tinggi. Jika terus menerus terjadi gangguan kesetimbangan ekologis dan terganggunya siklus hidrologi maka kemungkinan akan adanya desa lain yang berperan menjadi daerah penyangga resapan air akan digugat walaupun boleh jadi penduduknya tidak terkait langsung dalam penggangguan kesetimbangan ekologis tersebut.
Demikian halnya dengan desa Sukanegara. Di sini pun menyimpan konflik antar daerah, antar kabupaten, jika permasalahan hidrologi tidak tertangani dengan baik.
Permasalahan pertanahan yang potensi muncul terkait dengan abrasi sungai Cikaengan adalah masalah kepemilikan dan pengelolaan daerah “tambahan” dan daerah yang “hilang” akibat abrasi tersebut. Selama ini belum pernah tercatat muncul sengketa atas “tanah tiban” tersebut.
Di daerah kapunduhan Sukawening, Desa Peundeuy, terdapat peristiwa singkapan geologis yang mengakibatkan sebagian tanah tertimbun dan tertutup serta “hilang” dari permukaan. Lokasi ini digunakan untuk lahan pertanian. Selama ini yang menjadi bukti kepemilikan bahwa tanahnya masih ada adalah manakala ada tanaman keras yang masih utuh berdiri. Ketika tidak ada bukti berarti tanahnya hilang.
Sikap aparat pemerintahan dalam menyikapi kasus-kasus ini adalah menunggu adanya laporan atas sengketa tanah dari pihak-pihak yang bersengketa. Selama ini belum pernah tercatat ada laporan sengketa tanah berkaitan dengan tanah-tanah tersebut.
A.2.6. Tata Guna Lahan
Di Kec. Peundeuy banyak daerah yang berbukit-bukit dengan tingkat kemiringan lereng yang tinggi. Pertanian yang dilakukan di lapangan adalah penanaman padi yang dilakukan pada lahan berlereng curam, tanpa ada tanaman keras berkayu yang menjadi pengikat tanah, dengan lebar petak sawah sekitar dua-tiga-empat langkah, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya longsor, manakala terlampaui tingkat kejenuhan air yang terikat oleh butiran-butiran tanah. Tingkat kejenuhan kandungan air ini puncaknya tercapai manakala terjadi hujan.
Lahan yang banyak beralih fungsi adalah dari lahan hutan yang dialihfungsikan sebagai lahan untuk bertanam padi huma. Kondisi yang paling parah adalah pembabatan hutan lindung di Cibaluk untuk dijadikan lahan pertanian.
A.2.7. Pendidikan
Menurunnya semangat mengajar para guru, karena kehilangan visi pengembangan pendidikan dan pengembangan daerah setempat. Keterputusan pendidikan dengan pengembangan pertanian di kec. Peundeuy.
Di Kec. Peundeuy masih tinggi tingkat drop outnya. Tingkat drop out siswa yang tinggi disebabkan oleh ajakan keluarga untuk ke kota membantu usaha berdagang.
Beberapa pesantren di kec. Peundeuy menunjukkan minat yang sangat besar berkaitan dengan pengembangan pertanian yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di pesantren dan memanfaatkan lahan yang dimiliki pesantren. Namun tidak semua pesantren memiliki lahan yang dengan lahan itu bisa membudidayakan komoditas pertanian. Terdapat penerimaan yang besar dari kalangan pesantren untuk mengintegrasikan pendidikan di pesantren dengan pertanian dan pengembangan potensi daerah.
A.2.7. Kesehatan
Dari perumahan penduduk yang disurvei terlihat bahwa sebagian besar penduduk mengalami rawan gizi dan keseimbangan pola makan yang buruk. Asupan dan keseimbangan gizi makanan kurang memenuhi sarat standar kesehatan.
Sebagian besar bangunan rumah berbahan baku kayu. Sebagian besar rumah tidak memiliki sirkulasi udara dan sanitasi yang bruruk. Tingkat sanitasi rumah yang rendah dan kesadaran tentang kesehatan yang rendah, membuat tubuh, rumah dan lingkungan sekitar kurang memenuhi standar kesehatan.
Tenaga kesehatan di kec. Peundeuy masih sangat kurang. Untuk penduduk yang jauh letaknya dari puskesmas lebih senang menggunakan obat-obatan yang dijual di warung-warung atau obat tradisional untuk mengobati penyakitnya Untuk berobat ke puskesmas, terkadang datang dari Pangrumasan ke Peundeuy, jalan kaki naik turun bukit. Itupun kalau dirasa penyakitnya tidak sembuh-sembuh.. Dan pilihan ke puskesmas adalah pilihan terakhir.
Untuk air bersih yang digunakan, ada masyarakat yang menggunakan balong dan cubluk umum sebagai tempat MCK. Kalaupun ada penduduk yang memiliki sumur itupun jaraknya dengan balong tidak cukup jauh, sehingga memungkinkan rembesan air balong dapat masuk ke sumur.
Permasalahan persalinan, biasanya yang diminati pertolongan pertama adalah para paraji. Obat-obatan yang digunakan oleh para paraji sebagian besar adalah menggunakan ramuan tradisional, karena terbukti manjur. Jika paraji ini telah mentok dan tidak sanggup untuk melakukan penanganan lanjutan maka diserahkan kepada bidan (tenaga medis).
Kebiasaan tata cara kerja yang dilakukan masyarakat dalam mengelola lahan dan balongnya menyebabkan kontak langsung dengan air yang dingin selama berjam-jam. Kebiasaan ini diduga menjadi penyebab munculnya berbagai penyakit yang terkait dengan tulang, terutama di anggota tubuh.
Transportasi
Sarana transportasi penumpang yang umum di Kec. Peundeuy adalah elp dan minibus. Karena sedikitnya jumlah angkutan penumpang umumnya, maka satu elp bahkan dimuati sampai 40-an orang. Duduk di atas kap dan menggantung di samping iri dan bagian belakang elp. Kondisi yang penuh sesak melebihi kapasitas tempat duduknya akan membahayakan keselamatan penumpang. Bahkan pernah ada korban meninggal akibat buruknya sarana transportasi ini.
Kondisi prasarana jalan utama kecamatan yang menghubungkan kec. Peundeuy dengan kecamatan lain kondisinya buruk. Banyak lobang dan tanjakan sekaligus tikungan tajam. Jalan yang menghubungkan desa Sukanagara dan Pangrumasan dengan kota kecamatan tidak memadai. Kondisi yang paling parah adalah jalan yang menghubungkan ke Desa Pangrumasan. Ada tiga jalur untuk ke Desa Pangrumasan, jalan kaki pada jalan setapak lewat Peundeuy, naik turun bukit-bukit. Jalan setengah aspal sempit yang dilalui ojek, namun hanya setengah jalan, selanjutnya ditempuh dengan jalan kaki naik turun celah perbukitan. Jalan yang dapat dilalui mobil, kondisinya paling parah, belum beraspal, berbatu-batu besar dan tajam, berlobang-lobang besar, licin, belokan tajam dan turunan/tanjakan curam.
A.2.8. Permukiman
Di desa Peundeuy bagian barat daya – barat beberapa kali terjadi singkapan geologis yang mengakibatkan satu bagian menimpa dan menumpuk bagian permukaan tanah yang lain. Akibat peristiwa semacam ini yang berlangsung beberapa kali dan memiliki pola yang jelas pergerakannya mimiliki potensi sebagai tempat yang kurang aman untuk dijadikan pemukiman. Sebagian warga daerah yang terkena bencana ini pindah ke daerah lain di Kec. Peundeuy.






