->Profil Desa Binaan

Profil Desa Binaan


Table of Contents:

A.1.2. Kenakalan Pemuda

Daerah yang paling terkenal paling tinggi tingkat kenakalannya adalah daerah Pacing, Desa Peundeuy. Bahkan di tempat lain pergaulan muda-mudi sudah cukup bebas dan meresahkan masyarakat. 

 

A.2. ISU UTAMA

 

 

A.2.1 Kecamatan Termiskin di Kab. Garut

Kecamatan Peundeuy jika dilihat dari PDRB perkapita, merupakan kecamatan dengan PDRB perkapita yang paling rendah dibandingkan dengan kecamata-kecamatan lain di Kab. Garut.

A.2.2 Mobilitas Tenaga Kerja

Di Kec. Peundeuy banyak yang menjadi TKW ke Arab Saudi. Ada sebagian anggapan bahwa pergi ke tanah suci bekerja menjadi TKW adalah suatu pekerjaan mulia dan suci. Sebagian wanita yang bekerja menjadi TKW malah menjadi kebanggaan kecamatan Peundeuy karena dari bidang ini banyak menghasilkan perbaikan ekonomi, salah satunya ditandai oleh kualitas rumah yang lebih baik daripada rumah penduduk pada umumnya. Yang menjadi TKW sebagian besar adalah dari desa Peundeuy, Sukanegara, dan Saribakti.

Sebagian besar pemuda di Kec. Peundeuy, bahkan ada yang mencapai 75% dari pemuda, pergi ke kota, lebih memilih untuk berdagang di kota, bekerja pada sektor informal. Ada pertimbangan bahwa kepergian ke kota ini adalah untuk mengisi waktu luang di sela-sela jadwal bertani di kampung untuk menambah penghasilan dan untuk mengurangi tingkat kenakalan pemuda karena menganggur. Sekitar 10-an hari di kota dan 10-an hari di kampung membawa uang dan merawat usaha pertaniannya.

Perpindahan sebagian besar pemuda mengakibatkan terbawanya potensi tenaga kerja keluar dari kecamatan Peundeuy. Apabila kondisi ini terus berlangsung maka dapat terjadi kehilangan potensi tenaga kerja.

 

A.2.3 Ketahanan Pangan

Secara umum, tanaman pangan yang dibudidayakan di Peundeuy adalah padi. Padi di sini ditanam oleh petani dengan tidak mengenal musim dan pergantian dan perputaran jenis tanaman budidaya. Sehabis padi, padi lagi. Begitu terus selama bertahun-tahun. Petani telah kehilangan sensitivitas dan pengkhidmatan terhadap musim dan perubahannya. Padahal sensitivitas dalam membaca kepada musim dan perubahannya serta berkhidmat kepadanya merupakan kunci utama keberhasilan bertani. Kegagalan pembacaan ini ditunjukkan dengan pola tanam yang monoton dan tidak mengikuti kaidah-kaidah penentuan waktu tanam dan waktu panen. Kesalahan ini berdampak luar biasa pada munculnya hama dan penyakit tanaman budidaya yang tidak dijumpai sebelumnya dalam kualitas dan kuantitasnya. Petani telah tercerabut dari dunia pertaniannya.

Hingga Agustus 2001, selama kurang lebih tujuh musim tanam, mengalami kegagalan panen padi. Menurut penduduk, kegagalan ini dikarenakan kekeringan yang panjang hingga tahun tersebut dan serangan hama tikus. Kekeringan kali ini berbeda dengan musim kering tahun-tahun sebelumnya. Serangan tikus dirasakan semakin ganas, dan tidak menyisakan bagian bagi petani. Penanaman serentak yang diorganisir melalui kelompok tani, dan berbagai macam upaya penanggulangan hama tikus tetap tidak membuahkan hasil. Bahkan ketika di cek di lapangan untuk beberapa petak sawah yang diusahakan ternyata tidak mengikuti pola tanam serentak. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi serangan tikus, namun tidak ada keberhasila sama sekali.

 

Petani di Kec. Peundeuy kebanyakan menggunakan benih padi bukan varietas lokal, seperti IR 64, karena pertimbangan lamanya masa panen menggunakan benih varietas lokal. Walaupun dari segi ketahanan terhadap serangan hama tikus varietas lokal lebih baik dari varietas IR 64. Di Peundeuy tidak ada lumbung desa, sehingga kegagalan panen ini telah menguras semua padi mereka. Dulu setiap tahun, selalu ada surplus padi yang dibawa keluar dari Peundeuy, sekarang mendatangkan beras dari daerah luar dan mendapatkan beras subsidi pemerintah, beras OPK. Beras OPK yang jatuh ke tangan penduduk bervariasi harganya, ada yang mencapai Rp 1700,00 per kg.

 

Tags
Serambi | Tentang Kami | Kontak Kami | Webmaster